1. Hujan Deras Menyalakan Lampu Hazard
Dalam kondisi hujan deras, jalanan terutama di jalan tol, seketika akan
berubah menjadi pohon natal. Sebagian besar mobil-mobil yang melintas akan
menyalakan lampu hazard (lampu sein yang menyala berbarengan sebelah kanan dan
kiri, depan dan belakang).
Bukan suasana syahdu bulan Desember yang
diperoleh. Tapi justru menyilaukan dan membahayakan bagi pengemudi kendaraan
yang lain. Ketika pengemudi dituntut untuk lebih berkonsentrasi, malah diganggu
oleh kelap-kelip lampu hazard yang menyilaukan mata.
Sesuai namanya,
lampu “hazard” mustinya hanya digunakan dalam kondisi darurat, misalkan sedang
mengganti ban kempes di bahu jalan, atau mobil mogok di bahu jalan, dan
sebagainya.
Salah kaprah penggunaan lampu hazard bukan hanya saat hujan
deras saja, tetapi juga pada waktu digunakan untuk konvoi atau iring-iringan
kendaraan, digunakan saat masuk di terowongan yang mengharuskan memakai lampu,
dan digunakan sebagai isyarat oleh kendaraan yang akan mengambil jalan lurus
ketika berada di perempatan / persimpangan jalan. Pantas saja sekarang susah
mencari kunang-kunang di sawah, ternyata sudah pada pindah ke jalanan
rupanya.
2. Penggunaan Wiper
Belakangan
Saat ini sebagian besar mobil MPV dan SUV, meskipun tipe termurah, sudah
dilengkapi dengan fasilitas wiper di kaca belakang. Namun rupanya banyak
pengemudi yang tidak memahami penggunaannya. Ketika sedang turun hujan, beberapa
pengemudi segera memasang wiper belakang dalam posisi on sepanjang perjalanan.
Padahal, wiper belakang dibuat untuk digunakan pada saat mobil hendak berjalan
mundur, sehingga pengemudi bisa melihat kondisi di belakang mobil dengan
jelas.
Untuk mobil buatan Eropa, dan sebagian mobil Jepang di kelas
menengah ke atas, wiper belakang akan menyala otomatis ketika tuas transmisi
masuk ke gigi “R”.
Ketika mengemudi, pandangan pengemudi semestinya lebih
fokus ke arah depan, dan sesekali melihat kaca spion ketika hendak mendahului.
Lalu apa gunanya wiper belakang dinyalakan terus-menerus? Mau lihat pengemudi di
mobil belakang yang kebetulan cantik atau ganteng?
3. Goncangkan Mobil Saat Isi
Bensin
Pada saat antre mengisi BBM di SPBU, sering terlihat pengemudi mobil
mengoncang-goncangkan bodi mobilnya saat sedang mengisi BBM.
Anggapannya,
dengan melakukan tindakan tersebut, maka ia dapat mengisikan BBM ke tangki
mobilnya dengan kapasitas lebih banyak/penuh. Yang kita tahu, BBM adalah cairan,
dan sifat cairan adalah selalu mengisi dan mencari tempat yang lebih rendah.
Jadi tidak perlu digundang-guncangkan agar lebih penuh. Emangnya kaleng kerupuk?
Kalau BBM harganya jadi mahal, tindakan ini akan tetap sering terlihat gak
ya?
4. Tambah Kecepatan Saat Lampu
Kuning
Ketika lampu lalu lintas menyala kuning, sebelum menjadi merah, banyak
pengemudi kendaraan bermotor malah mempercepat laju kendaraannya. Padahal lampu
kuning tersebut dimaksudkan agar pengemudi melambatkan dan mengurangi kecepatan
kendaraan.
Dengan mempercepat laju kendaraan, akan sangat membahayakan
pengguna jalan lain. Ketika lampu lalu lintas menyala merah, maka pengemudi dari
arah kiri dan kanan mulai menjalankan kendaraannya. Bisa terjadi tabrakan
fatal.
Jika tiba-tiba pengemudi rem mendadak, bisa ditabrak oleh
kendaraan dari belakang. Makanya, lain kali kurangi kecepatan ya. Jangan seperti
orang Melayu bilang ketika nekat ngebut saat lampu lalu lintas menyala kuning:
“Kan, belum merah kaliii tuh bang....!?”
5. Mendahului dari Bahu
Jalan
Semua pengemudi pasti tahu bahwa fungsi bahu jalan
digunakan saat kendaraan mogok, ganti ban, atau untuk akses mobil patroli jalan
tol memberikan pertolongan dalam kondisi darurat.
Namun, walaupun sudah
berkali-kali diingatkan oleh pihak pengelola jalan tol melalui spanduk dan papan
elektronik. Bahkan salah satu klub otomotif telah mencanangkan gerakan 'anti
bahu jalan', tetap saja pelanggaran sering terjadi. Malah sekarang salah kaprah
itu bertambah, bahu jalan adalah lajur khusus pejabat
6. Jalan Pelan di Sebelah
Kanan
Jika melihat truk melintas di lajur kanan di sepanjang jalur pantura, itu
sudah biasa. Ternyata, kebiasaan itu menular ke mobil-mobil pribadi di jalan
tol.
Dengan enaknya mobil-mobil tadi berjalan pelan di lajur paling
kanan. Ketika penulis hendak mendahului dan memberi tanda dengan klakson atau
lampu dim, mobil tersebut malah menyalakan sein kanan.
Jadi, mobil yang
lebih cepat disuruh mendahului dari kiri. Waduh padahal sudah dipasang banyak
himbauan di jalan tol: “lajur kanan hanya untuk mendahului'.
7. Menekan Pedal Gas Sebelum Mematikan
Mesin
Banyak ditemui pengemudi akan menekan pedal gas mobil dalam-dalam sebelum
memutar kunci kontak ke “off”. Mereka beranggapan dengan demikian maka accu
mobil akan terisi, ruang pembakaran lebih bersih, sehingga mobil akan lebih
mudah di-start.
Padahal dengan menekan pedal gas, maka pompa bahan bakar
dan pelumas akan menghisap BBm dan oli. Jika kemudian tiba-tiba mesin dimatikan,
maka sisa BBM yang tidak terbakar akan menumpuk di saluran pembakaran. Justru
lebih baik mesin dibiarkan idle sekitar 10 sebelum dimatikan, sehingga kondisi
ruang pembakaran dan pendinginan mesin lebih optimal.
8. Tidak Menyalakan Lampu Sein Saat
Mendahului
Banyak pengemudi tidak menyalakan sein saat berpindah jalur atau memotong
jalur untuk mendahului kendaraan lain. Mereka beranggapan bahwa jika menyalakan
lampu sein, justru tidak akan diberi kesempatan oleh kendaraan di belakangnya.
Fenomena ini memang aneh, justru yang memberitahu dan meminta izin untuk
memotong jalur dengan menyalakan lampu sein kok malah sering tidak diberi
jalan
9. Lampu Sein Hanya Untuk Belok
Kanan
Masih soal lampu sein, pengemudi di Indonesia terkenal irit menggunakannya.
Lampu sein (atau lampu belok) hanya digunakan/dinyalakan saat kendaraan hendak
belok kanan saja.
Itupun dengan syarat, benar-benar belok dengan sudut
minimal 90 derajat. Jika belok kanan hanya serong sedikit (seperti huruf “Y”),
tidak perlu lampu sein dinyalakan.
Sehingga sangat jamak ditemukan, mobil
keluar di pintu tol tidak perlu lampu sein. Masuk ke rest area, tidak perlu
nyalakan sein. Belok kiri di perempatan, tidak perlu lampu sein. Mobil mundur
hendak masuk area parkir, tidak perlu sein, dan seterusnya
10. Jalanan = Tempat Sampah
Pengemudi kita menganggap jalan raya adalah tempat sampah. Mulai dari sopir
kendaraan umum, sampai pengemudi mobil mewah sering membuang sampah
sembarangan.
Yang paling sering adalah abu serta puntung rokok yang masih
menyala dibuang sembarangan.
Hingga tissu, kulit buah, botol minuman
berenergi, dan sebagainya. Sampah terbesar yang pernah saya lihat di buang
sembarangan di jalan tol adalah popok bayi. Bukan sembarang popok, karena
dibuang lengkap dengan isinya. Bisa dibayangkan betapa kagetnya kendaraan di
belakangnya dan indahnya pemandangan setelahnya.
Source : Detik
regards
Leonardus, AChFP
ur Financial Practioner