Aplikasi di Handphone anda yang dapat menghasilkan uang

Aplikasi di Handphone anda yang dapat menghasilkan uang
AplikasiATMPonsel
Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Monday, April 13, 2015

Be a Good and Extraordinary Agen


Hidup adalah perjuangan utk mencapai kebebasan...yang berjuang adalah kita sendiri...jangan menggantungkan hidup kita pada orang lain...kalau kita tergantung orang lain bersiaplah utk terima kenyataan bahwa cita cita kita tdk akan pernah tercapai.
Menjual itu mudah...tapi kalau mau menjual yang optimum secara konsisten membutuhkan keyakinan dan keahlian extra.
Premi 1jt dan 100jt sama saja dapatnya buku polis...so...client berfikir kenapa harus bayar 100jt?....kita harus bisa tranfer keyakinan kita melalui keahlian yg kita miliki...supaya client mau membeli 100jt. Kalau kita tdk bisa transfer keyakinan kita, bagaimana mungkin client mau membeli 100jt?
Masalahnya bukan 1 atau 100jt...yang penting adalah apakah kita bisa meyakinkan client membeli yang optimum dari penghasilan client.
Tugas agen bukan menjual...tapi membantu client membeli apa yang mereka butuhkan...kita harus tahu dulu apa kebutuhan mereka.

Kita harus tahu apa yang kita kerjakan...yakin dgn apa yg kita kerjakan...spy kita firm saat hadapi keberatan nasabah.
Penyebab gagal adl : kurang terampil dan aktivitas kurang. Kurang terampil bisa diatasi dgn traning...tapi kalau kurang aktivitas itu keputusan kita.


Setiap orang perlu life insurance...kita tdk perlu minta minta mereka beli..tapi nasabah perlu disadarkan bahwa mereka butuh life ins. Nasabah perlu yakin bahwa kita qualified membantu mereka. Setiap orang pasti meninggal, tapi kebutuhan keluarga akan tetap ada. Keluarga yg ditinggalkan tetap harus membayar segala kebutuhan bahkan membayar hutang dari orang yg meninggal. Hal ini pasti berdampak secara keuangan bagi keluarga dalam waktu yg cukup lama sampai suatu saat ada seorang dari anggota keluarga tsb yg bisa bangkit mengatasi masalah keuangan tsb.


Semakin kaya seseorang, semakin besar pulalah beban hidup orang tersebut. Beban ini akan diwariskan ke keluarga saat ybs meninggal. Asuransi dapat membantu keluarga yang ditinggalkan menanggung beban besar tsb.
Life ins adl alat yg PALING MURAH DAN PASTI dlm mendukung client mencapai tujuan hidup mereka.
Masa depan itu tidak pasti. Sbg ortu kita INGIN memberi masa depan yg pasti utk pendidikan anak anak kita. Tapi kita pribadi blm tentu bisa mewujudkannya. ASURANSI MEMBANTU KITA MEWUJUDKAN RASA CINTA KITA UTK ANAK ANAK KITA. Masa depan itu tidak pasti. Sbg ortu kita INGIN memberi masa depan yg pasti utk pendidikan anak anak kita. Tapi kita pribadi blm tentu bisa mewujudkannya. ASURANSI MEMBANTU KITA MEWUJUDKAN RASA CINTA KITA UTK ANAK ANAK KITA, jika kita pribadi tdk mampu mewujudkannya krn kita sakit atau meninggal.
Maka asuransi telah merubah masa depan pendidikan anak kita yang awalnya tidak pasti menjadi PASTI.
Premi yang disetor sangat kecil dibanding manfaat pertanggungan. 1jt bisa dapat pertanggungan 1M.

Asuransi dapat merubah kehidupan generasi berikutnya jika nasabah mengerti manfaat asuransi. Tugas kita adalah mencerdaskan mereka. Itu adalah MISI kita. Selling is about developing relationships. It is about helping prospects and clients discover what they don't know or understand about particular product or service.
"I have to sell something" ATAU "I have something to sell"?

Kalau kita menghargai client kita, mereka juga akan menghargai kita. Tapi kalau kita hanya memperlakukan mereka sbg "CALON KORBAN" penjualan, mereka tidak akan pernah menghargai kita.
Tugas agen : mencari prospek, meyakinkan mereka, menerima penolakan, melayani pasca closing.Spy kita bisa kerja dgn fun dan joy, kita hrs punya empati...empati berarti melihat dari kacamata client dan memahami client kita.
Carilah resiko yg tidak bisa ditanggung sendiri oleh client. Resiko yg jika terjadi akan berdampak serius thd orang orang yang kita cintai. Seimbangkan antara pertimbangan emosional dan rasional.
Tunjukan problem lalu tunjukan solusi. Tunjukan kelebihan solusinya. Bahwa premi sangat murah dibanding manfaat. Asuransi merubah ketidakpastian menjadi suatu kepastian.
Kalau mau sukses, kita harus punya inisiatif, empati, adaptif thd client, mampu meyakinkan prospek. Inisiatif utk terus menciptakan aktivitas prospek...ingat...aktivitas ditentukan diri sendiri...di sini kedewasaan agen diuji....seberapa kuat tekad utk merubah kehidupan diri sendiri..
Kita harus jadi agen yg sukses dan berintegritas supaya kita bisa meninggalkan LEGACY yang baik utk keturunan kita. Bagaimana kita mau dikenang oleh keluarga kita?

Seringkali kita takut menghadapi keberatan prospek...padahal itu adalah momentum kita bisa menunjukan kualitas kita sbg agen yg berbeda dari rata rata...
Objection tidak sama dengan rejection....keberatan tidak sama dgn penolakan.Keberatan sebenarnya adalah sinyal bahwa prospek tidak mengerti...bahwa prospek perlu dibantu...bahwa prospek perlu info lebih banyak..
Kualitas jawaban agen menentukan respon prospek...kalau tanggapan kita reaktif, justru makin menghilangkan kepercayaan prospek....tapi kalau respon kita obyektif, client akan menghargai jawaban kita...
Asuransi adalah people business...people selalu melibatkan rasio dan emosi...maka pastikan saat prospek kondisi kita sdg happy...
Pada saat kita merasa harus meng closing seorang prospek ideal, justru biasanya malah tidak closing...karena secara tidak sabar emosi kita mempengaruhi tindakan kita dan kita jadi reaktif...bukannya berusaha memahami prospek.
Banyak orang lebih suka membagi warisan dalam bentuk uang dari pada dlm bentuk aset tetap...karena lebih adil. Asuransi lebih menguntungkan karena tidak ada pajak dan asuransi lebih murah karena nasabah hanya bayar premi yg jumlahnya jauh lebih kecil dari pertanggungan. Hal ini bisa mencegah konflik keluarga saat bagi warisan. Di setiap polis tinggal ditulis nama beneficiary/penerima manfaat yg ditunjuk.
3 kelemahan asuransi : 1. Kalau terlambat dibeli akan mahal; 2. Kalau sudah sakit tidak bisa dibeli lagi, 3. Kalau tdk tahu tujuan beli asuransi, bisa sangat merugikan, seharusnya dapat penjelasan yang betul dulu...maka dari itu saya datang saat ini untuk membantu bapak menghindari ketiga kelemahan tadi.
Prospecting berarti kita mengenal, memahami  kehidupan dan kebutuhan calon client. Kalau prospecting berhasil, maka 95% kemungkinan closing.

Ajukan pertanyaan yang benar....perusahaan kami bersedia memberikan pertanggungan crisis cover sampai 8M...berapa pertanggungan yang ingin anda berikan pada keluarga saat resiko terjadi?...mau 8M atau 6M atau 4M?...jawabannya pasti 8M.

Sunday, January 18, 2015

NASIBMU LELAKI ....

NASIBMU LELAKI


Siapakah LAKI-LAKI itu?


LAKI-LAKI adalah ciptaan TUHAN yang paling indah. Dia banyak mengalah mulai dari umur yang sangat muda.


Dia korbankan makanan cemilannya.. untuk adik beradiknya.

Dia korbankan impian.. hanya untuk melihat orang tuanya tersenyum.

Dia membelanjakan kesemua uangnya untuk membeli hadiah untuk..... yang dia cinta..... hanya untuk melihat dia tersenyum.

Dia korbankan kehidupan masa muda nya hanya untuk isteri dan anak-anaknya.. dengan bekerja sampai malam tanpa mengeluh.

Dia bina masa depan mereka sekeluarga dengan membuat pinjaman dari bank dan membayar cicilan sepanjang hayatnya.

Dia telah bersusah payah tapi masih dimarahi ibu, boss, dan bahkan isteri..!!
Kehidupan dia berakhir hanya untuk mengalah demi kebahagiaan orang lain
Kalau dia keluar rumah, kata orang dia lalai
Kalau dia tinggal dirumah, kata orang dia malas.
Kalau dia marahi anak-anak, kata orang dia galak.
Kalau dia tak marah, kata orang dia laki-laki yang tak bertanggungjawab.
Kalau dia tak bolehkan isteri bekerja, kata orang dia seorang yang mengungkung.
Kalau dia bolehkan isteri bekerja, kata orang dia makan gaji isteri.
Kalau dia dengar apa kata ibunya, kata orang dia anak emak..!
Kalau dia dengar kata isteri, kata orang dia DKI Dibawah Ketiak Istri

Hargailah setiap laki-laki dalam hidup anda. Anda tidak akan pernah tahu apa perngorbanan yang sudah dilakukan buat anda.

Just Happy being a man


Bahasa Aneh -- Dongeng dari Negeri Swiss

Bahasa Aneh -- Dongeng dari Negeri Swiss Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1
Dahulu kala hiduplah di Negri Swiss sebuah keluarga bangsawan. Mereka hanya memiliki seorang putra tunggal. Tapi, Putranya itu bodoh dan malas belajar.
Lalu berkatalah Ayahandanya kepadanya,“ Putraku yang terkasih, Engkau harus pergi dari sini. Aku akan mengirim Engkau ke seorang guru yang akan memberimu pelajaran. Aku menginginkan seorang putra yang pandai. “
Lalu pergilah Putra Bangsawan itu ke sebuah kota lain dan tinggal selama satu tahun dengan guru tersebut. Setelah itu, kembalilah Putra Bangsawan itu ke istananya.
Tanya Ayahandanya,“ Putraku, Engkau telah pergi selama satu tahun. Ayo, katakan apa yang telah Kau pelajari ?“
Jawab putranya,“ Baik Ayahanda, sekarang aku sudah bisa menggonggong seperti anjing, saya telah mengerti bahasa mereka.
“ Apa…. ?? “ teriak Ayahandanya dengan marah, “Kamu tidak belajar sedikit pun ? Pergi dari sini, Kamu bukan Putraku lagi Aku tidak ingin melihat kamu lagi di istana ini “
Lalu Putra Bangsawan itu meninggalkan istana ayahnya dan pergi mengembara berhari hari bahkan berminggu minggu lamanya. Suatu ketika tibalah ia di sebuah puri. Waktu itu sudah malam dan ia ingin menginap di puri tersebut. Tuan pemilik puri pun mengijinkannya. “ Di bawah sana, di sebuah menara itu kamu boleh tidur. Tentu saja tempat itu sangat berbahaya. Tiga anjing liar tinggal di sana. Anjing anjing tersebut juga memakan manusia. Semua orang sangat takut dengan mereka.“ Tetapi, Pemuda Bangsawan itu tidak memiliki rasa takut sedikit pun dan melangkah ke arah menara tersebut.
Pagi berikutnya muncullah ia dari menara tersebut dan dalam keadaan segar bugar. Lalu kata Putra Bangsawan tersebut kepada pemilik puri itu,“ Saya telah berbicara dengan anjing anjing liar itu. Saya berbicara dalam bahasa mereka. Anjing anjing itu dulunya juga manusia. Sampai saat ini mereka tinggal di sana untuk menjaga sebuah harta karun. Harta karun itu harus kita keluarkan.“
Maka kata Tuan Puri tersebut dengan senang hati ,“Pergilah dan ambilah harta karun itu “ Lalu Putra Bangsawan itu turun lagi dan tak lama kemudian sungguh memanggul sebuah peti emas.
Sejak hari itu, Orang orang tidak lagi melihat dan mendengar suara dari anjing anjing itu. Orang orang itu kini hidup tanpa rasa takut akan anjing anjing itu. Akhirnya Pemilik Puri itu menerima Putra Bangsawan itu seperti putranya sendiri. Keduannya hidup lama dengan bahagia dan damai.
... baca selengkapnya di Bahasa Aneh -- Dongeng dari Negeri Swiss Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Saturday, January 17, 2015

Antara Aku, Tukang Cukur dan Tuhan

Antara Aku, Tukang Cukur dan Tuhan Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1
Sudah panjang. Aku harus memotongnya. Aku langsung mengambil motorku dan pergi ke tukang cukur terdekat.
Kuhentikan motorku di depan toko itu. Tokonya sederhana, menggabung dengan rumah si tukang cukur. Cat warna hijau dengan jendela besar di depan toko itu yang ditulisi dengan cat warna merah, tulisannya adalah “POTONG RAMBUT. RAPI. MURAH. DIJAMIN PUAS”.
Aku langsung mengambil kunci motor dan berjalan masuk ke dalam. Ruangannya sederhana, tembok yang di cat senada dengan luarnya, meja dan kursi yang berwarna putih tanpa pemakai, alat-alat cukur lengkap dengan sisir bermacam-macam, ada yang kecil, ada juga yang besar. Ada yang warna hitam, sampai warna oranye pun ada.
Namun di sini sepi. Tidak ada pelanggan sama sekali, mungkin hanya musik dangdut yang dinyalakan si tukang cukur.
Sesaat aku melihat-lihat, tiba-tiba ada yang menepuk pundakku. Refleks aku langsung berbalik dan melihat sesosok pria hitam kurus berkumis dengan pakaian merah dan celana hitam. Lalu dia tersenyum kepadaku dan berkata, “Mau potong Mas?”. Aku mengangguk dan duduk di kursi putih. Kursi si pelanggan.
“Sepi, Mas?” Tanyaku sambil melihat bayangan si tukang cukur yang sedang mencari guntingnya lewat cermin di depanku ini. Cermin.
“Iya nih, Mas. Mungkin para pelanggan sudah bisa potong rambut sendiri.” Jawabnya sambil memasangkan kain plastik ke tubuhku.
“Mungkin ya, Mas.” Kataku dan bersiap-siap untuk dipotong rambutku. Saatnya untuk say goodbye pada rambut tersayang.
“Ini rambutnya mau diapain, Mas?” Tanyanya.
“Dirapiin aja, Mas.” Jawabku singkat. Si tukang cukur memulai ritual potong rambut dengan memotong rambut samping kananku, dan melanjutkannya dengan teliti dan penuh dengan Kesenian ala tukang cukur.
“Tuhan ternyata nggak ada, Mas.” Katanya secara tiba-tiba di tengah aku yang sedang asyik melihatnya yang ahli memotong rambutku.
“Maksud Mas?” Tanyaku bingung.
“Iya, Tuhan itu tidak ada.” Katanya sambil menatap mataku melewati perantara cermin.
“Kok bisa Mas bilang kayak begitu?” Tanyaku
“Kalau Tuhan itu ada, mengapa ada rakyat yang miskin, hidup menderita di pinggir jalan, meminta-minta. Iya, kan?” Jelasnya. Aku langsung diam. Hanya diam selama ritual ini berlangsung. Melihat kembali keahlian si tukang cukur.
Setelah beberapa lama, ritual ini selesai. Si tukang cukur membersihkan rambut-rambut yang berada di bahuku dan mengambil sapu untuk membersihkan rambutku yang sudah tercukur.
Sekarang rambutku sudah rapi. Serapi pakaian yang baru di setrika. Kemudian aku mengambil uang sepuluh ribu dari kantongku dan keluar dari toko ini.
‘Tuhan itu ada.’ Batinku, tidak terima dia berkata bahwa Tuhan tidak ada, aku langsung masuk kembali dan berkata kepada Si tukang cukur, “Ternyata tukang cukur itu tidak ada.”. Aku lihat dia kaget, dan matanya melotot kepadaku.
“Adalah! Buktinya baru saja anda saya cukur. Iya, kan?” Katanya dengan nada kesal. Kemudian aku mengambil tangan si tukang cukur dan membawanya keluar. Menuju ke dunia luar, tidak lagi di dalam.
“Lihatlah beberapa orang di sana, banyak yang rambutnya panjang dan kotor, itu membuktikan bahwa tukang cukur itu tidak ada. Kalau tukang cukur ada, tidak mungkin rambut mereka sepanjang meja bola tennis!.” Kataku.
“Itu salah mereka sendiri, kenapa mereka tidak datang kepadaku, kalau saja mereka datang, pasti rambut mereka akan rapi dan bersih. Itu salah mereka, bukan salahku, dan itu juga tidak membuktikan bahwa tukang cukur itu tidak ada.”
“Berarti itu juga membuktikan bahwa Tuhan itu ada. Kalau saja orang yang hidupnya miskin, menderita, dan lainnya itu mau mendekat ke Tuhan, pasti hidup mereka akan tenang, damai, dan sejahtera. Salah mereka sendiri tidak mau mendekat kepada Tuhan.”
Sesudah aku menyelesaikan perkataanku, aku langsung berjalan ke arah motorku terparkirkan, menyalakannya, dan pergi. Namun, sebelum aku berangkat pulang, aku melihat si tukang cukur itu melihat ke atas, memandangi langit yang dihiasi awan putih. Namun, dia tidak sedang melihat awan dan langit semata, dia sedang mencari Tuhan.
... baca selengkapnya di Antara Aku, Tukang Cukur dan Tuhan Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Tuesday, January 6, 2015

Yang harus dihentikan di 2015

15 hal yang harus anda hentikan di 2015

Hal favorit saya tentang Tahun Baru adalah bahwa hal itu memungkinkan untuk rasa magis pembaruan dan kesempatan untuk memulai segar.

Ini adalah hari kita memutuskan untuk meninggalkan masa lalu dan bergerak maju. Ini adalah hari kita mengisi diri dengan keberanian dan mengatakan kepada diri sendiri ini adalah tahun kita akan mulai melakukan lebih banyak hal yang kita inginkan dan berhenti melakukan hal-hal yang tidak penting.

Dengan setiap tahun baru datang kesempatan untuk mengubah pola pikir kita, menghilangkan negatif dan memilih untuk bergerak maju. Ada alasan kita diberitahu yang terbaik belum datang.

Tahun ini, membuat resolusi Anda dapat menyimpan. Berhenti melakukan hal-hal yang tidak lagi dalam kepentingan terbaik Anda. Berikut adalah 15 hal yang harus Anda lakukan BERHENTI pada tahun 2015 untuk benar-benar bergerak maju dan hidup tahun ini dengan penuh:

1. Berhenti menampilkan dan menceritakan segalanya bagi semua orang.

Dunia tidak perlu tahu setiap langkah Anda; meninggalkan beberapa hal yang imajinasi. Misterius itu baik.

2. Berhentilah membandingkan diri Anda dengan orang lain.

Apa yang Anda lihat bukanlah apa yang Anda dapatkan, atau bahkan apa realitas sejati dari sebuah situasi ini. Kita semua menghabiskan terlalu banyak waktu kita membandingkan hidup kita dengan orang lain; Namun, kita semua lupa bahwa gambar-gambar yang kita lihat orang lain di Instagram dan Facebook hanya menyoroti kehidupan mereka.

Mereka tidak sehari-hari; mereka tidak perjuangan; mereka bukan bad hair day. Mereka yang diedit, Photoshopped dan berpose pemutaran bagian utama dari sorot sesaat kehidupan orang lain.

3. Berhenti mengkhawatirkan apa yang orang lain pikirkan tentang Anda.

Orang akan menilai Anda terlepas dari apa yang Anda lakukan, sehingga melakukan apa yang Anda inginkan. Tidak ada yang salah dengan berjalan perjalanan Anda sendiri di jalan yang Anda buat.

Anda tidak harus melakukan, suka atau ingin hal-hal yang orang lain mencoba, cinta atau keinginan. Mulai blog itu, menulis artikel itu atau memakai pakaian yang tentang yang Anda sudah ragu-ragu. Dalam kata-kata besar Kid Cudi, "Mereka gon 'menghakimi saya, jadi apa pun."

4. Berhenti menunggu.

Jika Anda tidak mengambil kesempatan atau risiko itu semua sekarang ... ketika akan Anda? Waktu akan selalu sulit untuk menemukan. Mulai sekarang dan pergi setelah apa yang Anda inginkan, atau menunggu untuk nanti dan berharap bahwa nantinya tidak terlambat.

5. Berhenti meragukan.

Jika Anda memiliki ide atau perasaan yang terus datang kembali kepada Anda, mewujudkannya. Ketika ide terus datang kembali, itu karena suatu alasan. Mengambil tindakan dan mengikuti ide-ide yang membanjiri pikiran Anda. Ide juta dolar adalah sepeser pun selusin, tapi itu hanya satu dalam satu juta yang menindaklanjuti dengan ide-ide mereka.

6. Berhenti menjadi orang asing.

Kita semua ini bersama-sama. Ketika Anda memberikan dunia terbaik yang Anda miliki, yang terbaik datang kembali kepada Anda. Jadilah baik untuk orang-orang. Memudar popularitas, kebaikan tidak.

7. Berhenti mengasihani diri sendiri.

Anda bukan korban; saatnya untuk keluar dari cara Anda sendiri. Jika Anda menemukan diri Anda terus-menerus dikelilingi oleh drama, Anda adalah orang yang memungkinkan itu.

Anda tidak akan dapat mengendalikan apa yang orang lain lakukan; Namun, Anda berada dalam kendali penuh bagaimana Anda bereaksi. Sadarilah bahwa Anda dapat mengatasi masa-masa sulit. Alih-alih menghadiri pesta kasihan Anda sendiri, Anda dapat menerima kenyataan bahwa hanya Anda yang dapat mengubah pikiran dan pengalaman.

Anda memiliki kekuatan untuk mengendalikan perasaan Anda.

8. Berhenti berdiri di jalan Anda sendiri.

Pikiran di kepala Anda tentang diri Anda dan situasi Anda benar-benar mempengaruhi kehidupan Anda. Pastikan musuh terburuk Anda tidak berada di antara telinga Anda sendiri.

Ikuti intuisi Anda dan belajar bahwa tidak ada yang berlangsung dimulai melalui paksaan. Jika Anda merasa terpaksa, tinggalkan lah.

9. Hentikan perasaan bersalah.

Ada perbedaan antara bergerak dan berhenti. Memahami bahwa tidak apa-apa untuk tumbuh dari hal-hal. Anda tidak perlu menginginkan hal yang sama yang Anda inginkan ketika Anda masih 16, 18, 21 atau 25 ...

Hidup berubah, dan begitu juga kita. Tinggal di mana Anda berada dan hidup dengan rasa bersalah atau takut adalah perjalanan dijamin ke mana-mana. Anda diperbolehkan untuk bergerak dan melewatkannya pada waktu yang sama. Kehilangan sesuatu atau seseorang tidak membuat Anda lemah; itu membuat Anda nyata.

10. Berhenti berpikir uang menciptakan nilai.

Jangan menilai terlalu tinggi keuntungan jangka pendek. Gaji yang lebih tinggi tidak sama dengan pekerjaan yang akan membuat Anda merasa lengkap. Sebuah penting lainnya dengan mobil bagus tidak sama seumur hidup kebahagiaan.

Pilih pekerjaan yang akan memberikan pengalaman, lebih banyak kesempatan dan ton ruang untuk pertumbuhan profesional dan pribadi. Pilih hubungan berdasarkan hati seseorang, bukan rekening bank.

11. Berhenti merasa wajib.

Jangan membuat keputusan berdasarkan apa yang Anda pikir Anda HARUS lakukan.

Jangan mengambil nasihat dari orang-orang yang tidak harus hidup dengan hasil keputusan. Membuat keputusan berdasarkan pada apa yang Anda INGIN lakukan. Ini hidup Anda dan Anda harus hidup dengan pilihan yang Anda buat. Anda tidak perlu memilih biasa-biasa saja ketika kebesaran ada.

12. Berhenti mengatakan "ya" sepanjang waktu.

Tidak ada kalimat lengkap. Anda berhutang tidak ada penjelasan untuk tidak ingin pergi keluar, tidak ingin mengambil minum, tidak ingin menginap, tidak ingin pergi ke reuni.

13. Berhenti berpikir semuanya kompetisi.

Definisi sejati kekuasaan adalah berapa banyak yang dapat Anda berikan kembali, dan bukan hanya moneter. Menjadi kuat adalah seperti berada berkelas: Jika Anda harus memberitahu orang-orang Anda, Anda tidak.

14. Berhenti berusaha menjadi seperti orang lain.

Sekali dan untuk semua, memiliki siapa Anda, di mana Anda memiliki pernah, dan jangan takut untuk menceritakan kisah Anda.


15. Berhenti berpikir Anda harus melakukannya dengan benar pada percobaan pertama.

Tidak ada orang lain yang tahu itu, baik. Tidak ada buku panduan atau sempurna rumus, dan sering, kehidupan bekerja lebih sebagai proses eliminasi untuk mencari tahu apa yang kita inginkan.

Kita belajar lebih banyak tentang diri kita sendiri dan hal-hal yang benar-benar membuat kita bahagia setiap hari - dan lebih penting lagi, hal-hal yang tidak. Ada saat-saat dalam hidup ketika semuanya kabur dan saat segala sesuatu tampaknya menjadi fokus.

Sama seperti lensa kamera, Anda memiliki kekuatan untuk menyesuaikan visi Anda. Dan, bahkan pada hari-hari kegelapan, di mana Anda tidak bisa melihat apa-apa, hanya terus bergerak maju. Ini satu-satunya yang konstan dan selamanya arah di mana kita semua harus pergi.

Selamat menempuh tahun baru dengan semangat baru ... sukses buat teman-teman semua

Leonardus, AChFP
ur Financial Practioner

Note : Tks friend MDRT Group inspiring qoute

Sunday, January 4, 2015

Si Siro Anak Musik Rock

Si Siro Anak Musik Rock Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Ada kisah seorang anak. Anak ini berusia kurang lebih 17 tahun. Anak ini seorang laki-laki kira-kira mempunyai tinggi 170 cm, dan bersekolah di SMA perkutut. Anak ini menyukai musik berirama Rock Full. Dia (seorang anak laki-laki ini), baginya musik rock adalah bagian dari hidupnya, anak ini di besarkan di keluarga yang tidak begitu mencolok dan tidak begitu rendah, ya bisa dibilang sebagai anak yang setandar lah. Tapi karena semangat yang dimiliki anak ini, dalam menyukai musik rock dia bisa menuai kesuksesan. Oya ini belum masuk ke inti ceritanya. Kita mulai ya.
Kira-kira cerita yang di latar belakangi oleh seorang anak ini adalah di mulai di sekolah yang dia tempati. Seperti biasa anak sekolahan lainnya, masuk pas tin-tong pukul 07:00 WIB, dan pulang 13:00 WIB (untuk umum). Bermula di dalam kelas, pas banget ceritanya di muat waktunya pelajaran kesenian, seorang guru yang termasuk wali kelasnya juga memberi para murid-murid untuk tampil menyanyi dengan musik dan lagu yang mereka sukai. Satu-satu bergilir di suruh oleh bu guru untuk mencoba menyanyikan lagu. Pertama guru menyuruh anton.
“anton majulah untuk menyanyikan sebuah lagu yang kamu sukai”, bilang ibu guru pada anton.
“baik bu guru”, sahut anton
Anton memulai nyanyian dengan musik Pop kesayangannya, dengan suara serak-serak basah dia memulai menyanyikan lagu pilihannya. Usai Anton menyanyikan lagu, lalu Ibu Guru memanggil Siswa/i yang lain. Bergilir dari satu anak ke anak yang lainnya, Dan kemudian tibahlah giliran Siro yang dipanggil oleh ibu guru untuk menyanyi.
“Siro, giliran kamu maju ke depan untuk menyanyikan lagu pilihan kamu”, ibu guru
Siro yang lagi menghapal lagunya di dalam hati, terkaget pas tiba gilirannya dan waktu di sapa oleh bu guru.
“ah, ooo iya bu, saya maju”, dengan kaget Siro menjawab
Dengan lagu pilihannya Siro mennyanyi dengan lagu yang beraliran Rock, dia memulai lagu, teman-teman di kelas Siro terkaget pas Siro menyanyikan Lagu Rock, pastinya lagu Rock adalah lagu dimana menyanyikan dengan suara yang melengkin. Lagu Rock itu dinyanyikan oleh Siro dengan hati yang lapang, maklum Siro adalah merupakan Fens fanatik lagu Rock. Selesai itu tanpa di sangka–sangka oleh Siro sendiri, lagu yang dinyanyikan disambut dengan tepuk tangan oleh teman-teman sekelas Siro, bukan karena suara yang melengkin itu, akan tetapi lagu yang dinyanyikan oleh Siro dihayati dengan seksama. Siro menjadi malu, tapi merupakan kebanggaan bagi dia bisa memikat hati teman-temannya.
Selesai menyanyikan lagu tersebut, di waktu jeda istirahat tiba teman-teman Siro mulai bergosip, biasa ABG apa bila ada yang bagus sedikit langsung di gosipkan, tapi wajar itu merupakan hal yang biasa. Melihat hal yang terjadi, wali kelas Siro mulai berpikir, ni anak hebat di ruang lingkup sekolahan saja sudah menjadi buah bibir anak-anak bagaimana kalau dia mulai mennyanyikan di luar sekolah (alam terbuka), bisa-bisa dia menjadi orang yang beken. Kebetulan wali kelas adalah orang yang mempunyai kenalan atau bisa dibilang kerabat dekat di salah satu perusaan musik di Jakarta. Di panggil lah Siro ke ruang guru, (tapi panggilan ini bukan karena siro ada kasus lho, tapi biasaaa). bu guru (wali kelas) bertanya pada Siro.
“Siro, tadi kamu pas nyanyi lagu dengan aliran Rock, teman-teman di kelas mu banyak yang menyukai, dan pas istirahan ibu lihat banyak yang membicarakan kamu, apakah kamu merasakan hal itu” tanya bu guru
“iya bu, kalau boleh Siro tau kenapa bu?”, dengan nada heran
“gak, gini bukan apa-apa bagaimana kalau bakat yang siro punyai itu dituangkan di suatu prusahaan rekaman”, bu guru
“ha”, semakin heran
“kenapa” ibu guru
“ibu guru pasti sedang bercanda ya”
“enggak, memang kenapa nak”, balik tanya
“memang sebagus apa suara Siro, sampai-sampai ibu guru tertarik untuk membawa ke prusahaan rekaman” tanya Siro
“bagus nak, ibu guru sudah menyansikan sendiri suara yang anak Siro nyanyikan tadi, jadi bagaimana tanggapan nak Siro”
“tanggapan yang bagai mana bu”
“tanggapan untuk nak siro ibu bawa ke perusahaan rekaman”, ibu guru dengan memberi masukan
“bu, boleh gak saya minta waktu untuk berpikir” siro mengajukan permintaan untuk berpikir
“berapa lama, nak siro untuk menimbang ajakan ibu” ibu guru membalas
“3 hari bu” Siro
“lama nak Siro kalau 3 hari, tapi ya gak apa-apa lah, dari pada tergesa-gesa memang bagus kalau dipertimbangkan dulu”, ibu guru
“terima kasih bu atas pengertiannya”, siro
“Iya”, ibu guru
Tak lama kemudian bel intirahan selesai, dan percakapan di ruang guru antara Siro dan bu guru (wali kelas selesai). Siro kembali ke kelasnya dan ibu guru tersebut kembali mengajar sesuai jam yang dia miliki (untuk mengajar di ruang kelas lain).
Sekian lama berlalu, Selesai sudah waktu sekolah. Kemudian anak-anak SMA perekutut jakarta pulang dengan serempak. Sampai cerita, Siro yang mendapat ajakan oleh ibu guru untuk membuat album di sebuah prusahaan rekaman di jakarta, lagi menimbang-nimbang ajakan tersebut. Sampai akhirnya, selesai sudah waktu 3 hari yang telah berlalu, Tidak aneh lagi kalau siro pasti dipanggil untuk menghadap ke ruang guru. Ibu guru memanggilnya, dan Siro menghadap bu guru (wali kelasnya juga).
“bagai mana nak, apakah Siro sudah mendapatkan jawaban untuk yang kita bicarakan kemarin”, tanya ibu guru
“sudah bu” siro
“jadi?”, dengan nada penasaran
“iya”, jawab siro
“bagus”, sambil tersenyum
Lama berselang, siro menjadi penyanyi yang berbakan,dan telah mengeluarkan album cukup banyak dengan dukungan dari gurunya dan teman-temannya. Dan juga Siro walau sudah menjadi terkenal dia tidak segan-segan untuk menyapa teman-temannya.
Ini merupakan suatu pelajaran kalau kita punya bakat pasti ada jalan untuk menggapainya. Teruslah berjuang karena setiap usaha pasti akan sampai. Yakinlah pada diri mu dan pada orang-orang sekeliling mu yang di anggap benar. 
Cerita baru klik link ini : http://goo.gl/v2pnmN

Leonardus AChFP

Thursday, January 1, 2015

Hujan Pertama

Hujan Pertama Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1
Mendung masih terlukis di langit sore. Awan-awan gelap yang menggelantung itu mengingatkan Keisa pada sore kemarin. Keisa yang sedang duduk termenung di balkon rumahnya, hanya bisa menahan kesedihan yang menusuk-nusuk dadanya. Sesekali dia meneteskan air mata kemudian menghapusnya lagi. Sore dan mendung ini membawa Keisa pada sore dimana ia dibuat terhempas pada sebuah kesakitan. Sore dimana ia bisa menyaksikan dengan jelas betapa Ringgo, lelaki yang ia sayangi menyabangkan cintanya pada sahabat Keisa, Neni.
“Sakit..” lirihnya sambil tangannya disilangkan memegang kedua lengannya dan meremas lengan bajunya. Kembali muncul air di sudut matanya.
Tak lama mendung itu berubah menjadi rintik hujan. Keisa keluar rumah dan berlari sepanjang jalanan komplek rumahnya. Tangisnya semakin menjadi. Air matanya tersamarkan oleh air hujan yang membasahinya. Dia terus berlari dalam guyuran hujan sambil matanya tak henti untuk menangis. Keisa ingin hujan ini bisa menghapus semua kenangannya bersama Ringgo.
Keisa duduk di sebuah bangku taman. Dia melihat awan masih gelap dan hujan makin deras. Jalanan komplek mulai sepi. Tak ada satupun orang yang terlihat berjalan di komplek itu. Biasanya, banyak anak-anak yang sedang bermain sepakbola di taman ini. Mungkin karena ini adalah hujan pertama, pikir Keisa.
Tiba-tiba Keisa terkejut melihat air hujan tak menetes ke tubuhnya lagi. Dia terheran. Padahal rintik hujan masih berjatuhan di jalanan itu, pikirnya. Ketika dia melihat ke atas ternyata ada sebuah payung yang sedang melindunginya dari guyuran hujan. Payung siapakah, pikirnya lagi. Lalu Keisa menoleh ke belakang, dan terlihat seorang cowok yang memegang payung itu.
“Kamu bisa sakit kalau tak memakai payung.” ucap lirih cowok itu. Suaranya hampir tak terdengar karena begitu deras hujan saat itu. Keisa hanya diam dan memandang cowok itu.
“Ini.. pakailah!” dia menyerahkan satu payung lagi pada Keisa. Dengan ragu Keisa mengambil payung tersebut.
“Pulanglah… hujan akan semakin deras!” ucapnya sambil melihat langit. Setelah itu, dia pergi meninggalkan Keisa sendiri.
—
Hari itu Keisa pergi berlibur bersama keluarga. Mereka mengunjungi kawasan wisata di pegunungan yang indah di kotanya. Karena Keisa memiliki villa keluarga disana. Sebenarnya Keisa tidak ingin bergabung dalam liburan kali ini, karena dia tidak memiliki semangat sama sekali untuk menikmati liburan. Entah kenapa, mungkin karena dia belum bisa move on dari ‘mantan’ pacarnya.
Pagi-pagi sekali Keisa dan keluarga berangkat ke puncak bukit. Di puncak ini kita bisa melihat matahari yang baru bangun dari tidurnya. Dengan cahayanya yang begitu indah. Keisa melihat semua orang mengabadikan peristiwa ini. Saat dimana bola raksasa yang bersinar itu mulai menampakkan dirinya di ufuk timur. Dia melihat semua orang, lalu pandangannya tertuju pada satu orang. Keisa melihat ada yang aneh dengan orang itu. Dia tidak memotret sunrisenya. Dia membidikkan kameranya ke arah Keisa. Keisa membalikkan badan untuk tak melihatnya. Saat Keisa melihatnya lagi, dia tak mengubah bidikan kameranya. Keisa coba memandang wajahnya, ternyata Keisa pernah melihatnya. Ya, dia cowok yang memberikan payung.
“Kenapa tidak memotret sunrisenya?” tanya Keisa sambil menghampiri orang itu dan dia langsung melepas kameranya untuk kembali bergantung di lehernya.
“Apa yang datang kesini harus selalu memotret sunrise?” jawabnya.
“Kamu cowok yang memberiku payung kan?” tanya Keisa.
“Kamu cewek yang menangis di tengah hujan kan?” tanyanya yang tak menjawab pertanyaan Keisa.
“Kenapa kamu memberiku payung?” tanya Keisa.
“Agar kau tidak semakin basah. Itu hujan pertama. Kata orang, hujan pertama itu bisa membuat orang sakit.” jawabnya. Keisa tak mengerti entah darimana dia tahu mitos aneh seperti itu.
“Kau percaya itu? Itukan kata orang tapi menurutku tidak. Aku masih sehat sekarang.” kata Keisa yang mencoba menjelaskan bahwa mitos aneh itu tidak benar.
“Karena aku sudah memberimu payung.” jawabnya sambil melemparkan senyuman pada Keisa. “Kenapa kamu menangis di saat hujan seperti itu?” cowok itu kembali bertanya pada Keisa. Keisa sejenak terdiam. Mungkin dia mencerna satu per satu kata yang keluar dari mulut cowok itu sebelum dia menjawabnya.
“Aku berharap hujan bisa menghapus semua luka dan kenangan masa laluku.” jawab Keisa. Cowok itu terdiam mendengar jawaban Keisa.
Mereka saling mengenalkan diri. Ternyata cowok itu bernama Juan. Saat Juan bertanya tentang luka dan kenangan yang Keisa maksud, Keisa pun tak segan membagi cerita dengannya. Sambil sesekali terlihat ada air mata yang timbul di sudut mata Keisa lalu menetes ke pipinya. Ya, rupanya Keisa masih belum bisa sepenuhnya melupakan hal itu.
“Jangan menangis, yang pergi biarkan saja pergi. Mereka sudah menemukan kebahagiaannya. Apa kau juga tak mau menemukan kebahagiaanmu?” dengan nada lirih Juan berkata pada Keisa. “Jangan buang air matamu untuk mereka. Masih ada yang lebih pantas untuk menerima air mata itu suatu saat nanti.” lanjut Juan. Keisa tak menjawab sama sekali. Dia hanya termenung memikirkan kata-kata Juan yang menurutnya ada benarnya juga.
“Kau lihat sunrise itu!” kata Juan sambil telunjuknya mengarah pada matahari. “Pernahkah kau berpikir kenapa kamu sekarang ada disini?” tanya Juan. Keisa hanya menggelengkan kepala. “Mungkin Tuhan ingin menunjukkan padamu, bahwa meskipun tanpa dia kau masih bisa melihat pagi dengan sunrisenya.” jelasnya lagi. Keisa tertegun mendengar apa yang dikatakan oleh Juan. Keisa tersenyum. Dia merasa ada sesuatu hal yang datang dan membuat hatinya sejuk. Tentu bukan udara di puncak bukit ini. Keisa juga tak mengerti apa itu.
Semenjak saat itu, Keisa semakin hari semakin bisa melupakan lukanya. Bahkan menghilangkannya. Semua ini berkat kehadiran Juan, pikirnya. Juan seperti sunrise muncul di ufuk timur. Ia akan siap untuk menerangi sepanjang hari. Keisa berpikir sudah saatnya dia bangkit dari keterpurukan. Dia tidak mau terus menerus bersedih atas apa yang dilakukan ‘mantan’ pacar dan sahabatnya itu. Hati harus kembali di tata, agar kembali ada tempat untuk siapa pun yang menunggunya.

Lanjutkan dengan kisah lain yang inspiratif dalam : http://nomor1.com/leonmu112  atau  http://goo.gl/v2pnmN
Leonardus AChFP

Wednesday, December 31, 2014

Bidadari Kecil, Saghirah

Bidadari Kecil, Saghirah Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1
“Saghirah, hari ini sekolah ya nak. Ibu tak mau gara-gara ibu, Saghirah ga sekolah.” ucap ibu Fitri yang masih terbaring lesu setelah di tabrak lari oleh sebuah mobil sedan dua bulan yang lalu yang membuat kedua kakinya tak dapat digerakkan lagi. Ibu muda beranak dua tersebut sudah dua tahun terakhir menjadi tonggak dalam keluarganya setelah suaminya meninggal dunia karena infeksi di kakinya.
“Iya, bu.” Jawab Saghirah. Matanya berkaca, namun ia tetap tersenyum.
“Maafkan Ira, bu. Ira ga mau ibu sedih kalau tau sebenarnya Ira sudah tidak sekolah, Bu.” lirih Saghirah dalam hati. Rasa tak tega yang membuat semua ini terjadi.
“Ibu, minum obat dulu ya.” Ira duduk sembari merapikan tempat tidur ibunya yang lusuh.
“Kamu dapat obat dari mana sayang?”
“Eu… Di kasih sama dokter Hani, bu.”
Sejenak Ira terdiam. Ia merasa bersalah telah berulang kali terpaksa melakukan hal yang menurutnya konyol itu.
“Siapa beliau itu, nak?” Tanya Ibu Fitri lagi. Kondisi kakinya yang masih membengkak dan tidak mendapatkan perawatan yang berarti membuatnya tak bisa memenuhi kewajibannya sebagai ibu sekaligus bapak bagi kedua anaknya.
“Beliau dokter di kampung sebelah, bu.” Kali ini dia tak berbohong. Namun, bukanlah kebaikan dokter Hani yang memberikannya obat setiap hari, tapi hasil keringatnya lah yang membuat obat itu menjadi miliknya sekarang.
Seperti dijanjikan, ia pamitan untuk sekolah. Melihat penampilannya selaku siswa, tak ada yang menyangka apa sebenarnya telah berlaku terhadap si kecil Saghirah. Ia masih berseragam sekolah sampai ke sebuah gerbang, gerbang dimana tak seharusnya ia berada. Dan, tak ada yang menduga kalau sejatinya ia sekarang sudah menjadi salah satu murid di ‘sekolah alam’, TPA, Tempat Pembuangan Akhir, tersebut. Hal itu sudah dilakoninya semenjak kecelakaan ibunya, namun baru minggu ini ia mulai dari pagi, setelah dia di vonis untuk tidak dapat lagi mengikuti pembelajaran oleh kepala sekolahnya.
Disana ia belajar menjadi seorang ibu, bapak, atau penanggung jawab keluarga. Sampah-sampah yang menurut kita kotor dan jijik adalah ‘mutiara’ dimatanya sekarang dan mutiara itu menjadi buku serta mata pelajarannya, sedang panas dan peluh adalah gurunya. Di sana ia berlomba dengan serombongan ‘murid-murid’ sekolah terbaiknya saat itu. Ia harus berlomba mencari ‘mutiara’ yang bisa di daur untuk di tukar dengan Rupiah. Tak ada harapan muluk setelah seharian dia disana. Ia hanya berharap untuk bisa terus melanjutkan hidup bersama ibu dan adik semata wayangnya.
“Ya Allah, Ira hanya ingin ibu cepat sembuh. Ira ga tega melihat ibu terbaring tak berdaya. Ira pengen beli obat agar ibu sehat, ya Allah…” Doa tulus dan polos dari bibir mungilnya di pagi ini. Walau perasaan tak enak selalu menghantuinya, gelisah, khawatir akan kondisi ibunya yang tak stabil ditinggalnya sendiri di rumah. Sedang adiknya yang masih kelas dua Sekolah Dasar belum bisa diharapkan apa-apa. Ia bisa sekolah dan jajan ringan tiap harinya saja telah cukup bagi Ira.
Hari berganti, pekan mulai menutup masa, dan bulan ketiga pun menyambut. Niatnya menabung untuk kembali bisa sekolah terpaksa diurungkannya. Dipikirannya kesehatan ibunya adalah utama. Walau kadang ia merasa iri melihat teman sebayanya yang masih bisa sekolah dengan nyamannya. Tak jarang juga ia minder untuk itu. Namun ia bertekad akan berjuang, walau mungkin ia hanya bisa jadi murid di ‘sekolah alam’ itu, namun ia tetap menyempatkan diri dengan berbekal seragamnya ia pura-pura menjadi murid yang hampir tiap hari hanya study tour, beberapa sekolah ia sambangi untuk bisa belajar walau hanya dua hari dalam seminggu. Tak ada yang menduga ia demikian. Sungguh Saghirah luar biasa.
—
Tuntutan untuk saling mengenal antara dia dan beberapa jajaran guru di sekolah Menengah Atas Swasta di Kota Bekasi yang ia kunjungi kembali memaksanya untuk berbohong.
“Maaf, bu, pak, kalau saya berbohong.” lirihnya dalam hati. Walau sejatinya berbohong adalah hal yang paling tidak bisa diterima hatinya.
Keesokan harinya, Ibu Aisyah, seorang guru di sekolah yang baru ia kunjungi tanpa sengaja bertemu Saghirah tak di sekolah seperti apa yang dia katakan kemarin hari. Tak ayal, beliau mendapati Saghirah dengan ketegarannya menjalani hidup. Ia memperhatikan apa yang seakan tak dipercayainya. Saghirah mengganti seragam sekolahnya dan menuju sekolah alamnya. Tiga jam berlalu. Saghirah membersihkan ‘mutiara’ hasil jerihnya di sekitar semak TPA itu. Sesekali ia merenung dengan raut gelisah. Kemudian ia memboyongnya dengan mengangkat sekarung ‘mutiara’ untuk dijadikan Rupiah. Ibu Aisyah tak kuasa menahan air matanya. Kemudian Saghirah kembali mengganti seragamnya dan pulang dari ‘sekolah’nya. Di jalan ia sempatkan diri untuk ke pasar menukar lembaran lusuh itu dengan seliter beras dan ke apotik langganannya. Ibu Aisyah yang menyamar menatapnya dengan mata sembab. Kemudian beliau mengikutinya sampai ke rumah. Saghirah masuk, namun tak lama kemudian ia kembali keluar dengan membawa drigen tiga puluhan liter untuk mengisi air di mushalla seberang jalan depan rumahnya. Ibu Aisyah terharu dengan apa yang tampak dimatanya. Menurutnya Saghirah begitu tegar. Dan semua beban itu tak pantas ada dipundaknya yang masih kecil dan lemah itu.
Dengan susah payah Saghirah memboyong air tiga puluh liter itu kerumahnya. Kemudian ia memapah ibunya ke kamar mandi di sebelah rumahnya. Tak ada raut mengeluh atau terpaksa dalam melakukan ini semua. “Tapi apa benar Saghirah sekolah di sekolah itu, atau…..?” Pertanyaan tak butuh jawaban menari sekelabat di hati ibu Aisyah. Namun, tak lama, ia masih terpana dengan apa yang tampak dihadapannya itu.
Tak lama kemudian Saghirah kembali memapah ibunya Ke dalam rumah. Rasa ingin tahu lebih dalam tentang seorang yang cerdas namun misterius itu menyesaki ruang hatinya. Ia begitu menarik untuk diperhatikan, menurutnya. Tak sadar sudah hampir setengah hari ibu Aisyah mengikuti Saghirah secara mengendap-endap. Ia bahkan lupa akan jadwal rapat di sekolahnya.
—
Saghirah kembali dengan kesibukannya di dalam rumah. Ia membalut luka yang masih belum kering dan menempel obat ramuan tradisional yang dibuatnya sendiri. Tak ada pilihan lain yang dapat membantunya sekarang selain dirinya yang melakukan ini semua. Semua keluarganya jauh di Madura sana.
Selesai Saghirah menanak nasi, ia kebingungan. Uangnya sudah ia belanjakan semua, sedangkan untuk lauk makan siang itu belum ada sama sekali. Kemudian ia mendiamkan nasi hasil masaknya dari tungku kayu yang dibuatnya selama ibunya sakit. Ia harus berhemat untuk menggunakan dapur gas. Dengan berbekal nasi putih dan garam dapur, ia mencoba menghidangkannya untuk ibunya.
“Maafin Ira, Bu. Ira belum bisa berbuat apa-apa untuk ibu, ini ada sedikit riski dari Allah untuk kita makan hari ini, tapi…” Ia tak berani untuk melanjutkannya.
“Sudah. Seharusnya ibu yang minta maaf. Ini adalah kewajiban ibu, nak. Bagi ibu, bisa melihat anak ibu sekolah dan tersenyum itu sudah lebih dari cukup, Nak.” Ira hanya tersenyum walau hatinya tak sejalur dengan apa yang ibunya katakan, matanya kembali berkaca, hati kecilnya tak kuat, tak tega dengan selalunya membohongi ibunya, namun sementara waktu itulah yang terbaik menurutnya. Kemudian ia menyuapkan nasi putih yang ditaburi garam dapur untuk ibunya. Walau nafsu makan kurang, ibunya berusaha untuk menelan suapan dari putri tersayangnya. Setidaknya hal tersebut akan membuat saghirah bahagia. Hanya itu harapan ibu yang semakin lama semakin terlihat tua ketimbang umurnya yang masih berkepala tiga. “Nak, kamu kerja apa? Ibu merasa ada yang kamu sembunyikan dari ibu. Tiap hari kamu membawa ibu makanan lezat ini dan obat untuk ibu. Siapa yang membantu kita? Ibu ingin berterima kasih banyak padanya.” Ibunya penasaran dengan apa yang dilakukan Saghirah sehingga setiap pulang sekolah ia membawa seliter beras dan sebungkus obat untuk dirinya.
“Euuu… I.. Ira ga bekerja, Bu. Ira tiap hari sekolah. Riski kan kata ibu ada yang mengaturnya, jadi Ira ga perlu pusing untuk itu.” Ibunya terharu mendengar kata tulus dan tinggi dari anak kebanggaannya tersebut. Namun hatinya seakan tak percaya dengan semua itu.
“Trus siapa yang tiap hari bersedia memberi kita beras dan obat itu, Ra?”
“Ada, nanti ibu pasti bisa ketemu sama orangnya.” Hibur Saghirah. Kemudian ia memeluk ibunya. Air matanya tumpah. Dalam hati ia menyumpahi dirinya sendiri. Keharuan dan kesyahduan melanda hati mereka. Dan, doa adalah hasil dari kesyahduan tersebut.
“Ya Allah, selamatkanlah Jiwa raga kami, berikanlah rizki yang cukup dan halal bagi kami. Selamatkanlah ya Allah anak-anak hamba yang merupakan titipan dari-Mu. Ya Allah, hamba menerima semua apa yang menjadi kehendak-Mu. Hamba sudah tak bisa mengawasi anak-anak hamba, hamba serahkan semuanya pada-Mu ya Allah.” doa yang disertai air mata itu begitu mengharukan jiwa. Andai Saghirah mendengarnya.
—
“Erni, kamu tau kabar tentang Shagirah?” Tanya Andi, selaku Ketua Osis di sekolahnya.
“Eu… Ga tau, tuh.” Jawab Erni singkat, walau sebenarnya dia sedikit tahu perihal yang terjadi dengan Saghirah. Namun pesan Saghirah untuk menyembunyikan ini semua membuat ia bungkam. Andi merasa ada yang tidak beres dengan kehilangan Saghirah, murid teladan yang merupakan mantan wakil ketua Osis di sekolah tersebut. Seminggu lebih ia mencari informasi tentang keberadaan Saghirah, namun sayang, ia tak berhasil. Erni saja yang merupakan teman dekat Saghirah hanya tahu ia pindah sekolah.
Keesokan harinya Andi mencari tahu alamat Saghirah, dan hanya Erni yang pernah kerumahnya. Kemudian Andi memaksa Erni untuk mengantarkannya kerumah Saghirah. “Assalamu’alaikum…” Erni memberi salam.
“Wa’alaikum salam, siapa ya?” Jawab ibunya Saghirah dari kamarnya.
“Erni, Bu. Saghirah ada?”
“Erni…? Masuk nak. Saghirahnya sedang sekolah.”
Mereka dipersilahkan untuk masuk ke kamar. Setelah masuk dan basa-basi, Erni baru sadar, ternyata ibunya Ira yang dulu segar-bugar kini lemas tak berdaya. Kemudian mereka mengutarakan hajat mereka.
“Loh, bukannya Erni ini sekelas dengan Saghirah?” Tanya bu Fitri kemudian. Erni merasa ada yang tidak beres dengan Saghirah. Menurut cerita ibunya, setiap hari ia sekolah dengan seragam yang sama dengan dirinya. Tapi di sekolah ia tak pernah tampak sudah dua minggu.
“I… Iya, tapi tadi pagi belum datang, makanya kita kesini.” Erni membuat skenario. Sedang Andi semakin bingung. Namun, ia hanya diam saja walau keningnya mengernyit.
“Ya, ibu juga ga tau. Semoga ga apa-apa dengan dia.” Mendengar Saghirah belum ada di sekolahnya pagi ini membuat air bening tanda khawatir sekaligus kasih sayang itu mengalir lembut. Tak lama kemudian mereka pamitan.
“Kamu tau kalo ibunya Ira sakit?” Tanya Andi seakan menyalahkan Erni yang tak memberi tahunya.
“Ga, Aku ga tau kalo ibunya sakit. Dulu pernah cerita, tapi dah lama banget. Kirain ga separah itu.” Jawab Erni.
“Trus apa maksudmu Ira belum datang tadi pagi?” Tanya Andi.
“Eu… Gini, Ira keknya lagi ada masalah besar yang membuat dia ga sekolah lagi. Dari rumah ia tiap hari sekolah, tapi kemana kita ga tau. Tadi tuh maksudnya biar ibunya ga merasa bahwa Ira selama ini ga sekolah. Kasian dia.”
“Trus, tadi cuma boongan doang?”
“Ya iya, Ndi. Gimana sih. Apa kamu tega liat ibunya yang sedang tak berdaya itu puyeng gara-gara Ira ga ke sekolah?”
“Iya juga sih. Tapi gua harus tau. Ira sekarang sekolah dimana.”
“Iya. Mungkin besok pagi kita bisa buntuti dia.”
“Okey, sip. Tar kita SMS-an aja ya.”
“Sip.”
—
Masih seperti kemarin. Ira berseragam dan menuju TPA, Andi dan Erni membuntutinya dari belakang. Saghirah tak menyadari.
“Loh, kok dia menuju TPA, ngapain?” Andi seakan tak sabar karena sebentar lagi bel di sekolahnya berbunyi.
“Sabar aja. Kita liat, kali aja bukan kesana.” Jawab Erni santai.
Namun lain dari ucapan Erni. Saghirah segera menggantikan seragamnya. Namun ia tetap menggunakan jilbab dan terlihat ayu. Karena menurutnya, menjalankan Agama Allah adalah kewajiban mutlak yang merupakan kebutuhan bagi setiap individu. Dan, kedua pasang mata itu terbelalak. Seakan mereka tak percaya melihat apa yang terjadi. Dengan ketegarannya, Saghirah mengambil perlengkapan seadanya dan menuju tumpukan ‘mutiara’. Dua pasang mata itu tak henti menatap, dan mulai ia berkaca-kaca. “Ya Allah, jadi selama ini Ira mencari duit untuk menafkahi ibu dan adiknya disini.” ucap Erni terbata. Ia tak kuasa melihat teman sejawatnya itu berkelakar dengan sampah. Ia tak sampai hati melihat dimana ia mengganti seragam sekolahnya dengan baju kumal dan bau itu. “Ya Allah, Ndi. Ira…” Erni tak sanggup lagi melanjutkannya.
Begitu juga Andi. Ia tak sanggup berucap, dihatinya dipenuhi rasa iba yang menyesakkan dada.
“Ya Allah, betapa kejamnya kehidupan.” Andai bisa dirubah, ia mau menggantikan posisi Ira. Itulah humanity-nya.
Jam menunjukkan jam tujuh tiga puluh, Andi dan Erni segera meluncur ke sekolahnya. Sampai di sekolah Andi menceritakan apa yang tadi pagi dilihatnya dengan mata berkaca-kaca, dan rata-rata teman Osis seakan tak percaya. “Tapi, pasti ada yang tidak beres di sekolah. Aku sangat kenal pribadinya Ira, ia tak mungkin putus sekolah tanpa sebab yang jelas dan parah.” timpal Rahmat, mantan Ketua Osis dimana Saghirah sebagai wakilnya.
“Ya, sejauh ini kita belum ada informasi. Mungkin kita selidiki lebih lanjut nantinya.” Pungkas Andi yang di iya kan seluruh team work nya. Begitu juga dengan teman sekelas Saghirah. Mereka mengenal Saghirah adalah tipe gadis periang yang tak ada setitik beban terlihat di wajah ayu nya. Dan, mereka tak sadar kalau itu adalah cara lain Saghirah agar teman-temannya tak menjadi sedih dengan apa yang menimpanya. Bahkan di hari terakhir ia sekolah, ia hanya memberi tahukan Erni. Walau ia sadar hal tersebut akan menyakitkan temannya. namun, lagi-lagi menurutnya itu adalah cara terbaik untuk sekarang ini. “Masa’ sih? Kasian banget Ira, gimana dong?” Timpal Dewi, salah satu teman yang lumayan akrab dengan Saghirah.
“Ya… Andi dan teman-teman Osis lagi ngusahain untuk cari tahu penyebabnya. Kita sabar aja dulu, tunggu hasil dari usaha mereka, baru kita bisa gerak.” Ucap Erni yang sesaat ia menjadi komando dadakan.
Andi dan teman sesama Osisnya mencari akar perkara yang membuat Ira berhenti dari sekolah tersebut. Andi menemui guru BP; “Pak, bapak tau ga si Ira?” Tanya Andi dengan nada santai agar guru BP tersebut tak menyadari bila Andi sebenarnya sedang menyelidiki.
“Iya, kenal. Yang juara olimpiade itu bukan?”
“Iya. Hemmm… Denger-denger, dia di keluarin ya dari sini?” selidik Andi dengan cara menyergap dari depan.
“Sebenarnya kita juga kurang mengerti, kan kamu tau sendiri kepala sekolah kita sekarang. Orangnya pendiam, mukanya killer dan banyak hal misterius dengan dia.”
“Oya, memangnya benar Ira di keluarin, Pak?” Andi mulai terlihat serius.
“Kata Ibu Salamah sih begitu.”
“Trus, pasti ada sebabnya dong.”
“Iya, katanya Ira belum bayar SPP selam lima bulan ini.”
Andi tersentak mendengarnya. “Seorang yang juara olimpiade Fisika tingkat Provinsi bisa di skor untuk berhenti dari sekolah hanya gara-gara SPP? Ya Allah, kejam hidup ini.” Andi bergumam dalam hati.
“Ya udah makasih banyak, pak.” Ucap Andi lantas pergi meninggalkan guru BP tersebut sendiri.
“Sama-sama.”
“Jadi hanya karena SPP?” Rahmat kaget mendengarnya dari Andi.
“Iya, kak.”
“Semakin ga beres ini kepala sekolah kita. Kayaknya kita perlu bertindak lebih lanjut.”
“Setuju…!” jawab seluruh anggota Osis dan sebagian anak kelas XII IPA A, dimana Ira dan Erni berada. Kemudian Rahmat membisikkan sesuatu ke kuping Andi. Andi juga membisikkan ke yang lain sampai seluruh yang hadir dalam rapat tak teroganisir tersebut mengetahuinya.
Selanjutnya mereka mengatur strategi. Semua anggota Osis dan seluruh ketua kelas dikumpulkan secara diam-diam untuk mengomandoi. Rahmat yang menjadi dalangnya, sedang Andi dan Erni menyiapkan kebutuhan lainnya.
Hari yang dijadwalkan. Semua siswa dikomandoi untuk datang lebih telat dari biasanya, dan Rahmat menjadi penanggung jawabnya. Jam sembilan tepat. Sekolah SMAN 1 Percontohan kota Bekasi masih sepi dari siswa. Tak ada satupun siswa yang sudah hadir. Semua guru-guru hanya saling berbagi kebingungan. Bahkan ada yang menduga bahwa hari ini adalah tanggal merah. Beberapa menit kemudian, seluruh siswa datang berbarengan dengan membawa seluruh atribut demo. Ternyata rencana Rahmat mendalangi seluruh siswa untuk berdemo kepada kepala sekolahnya berjalan sempurna. Namun, mereka tetap memilih jalur damai. Seluruh siswa berseragam rapi. Hanya saja membawa baliho dan spanduk yang bertuliskan, “SELAMATKAN ASET SEKOLAH KITA” “APA ARTINYA SPP KETIMBANG ASET” diiringi teriakan massa dari seluruh siswa di sekolah yang terkenal terfavorit di kota mereka.
“Kami tak menerima Ira harus berhenti sekolah.” Ucap salah satu dari anggota Osis.
“Kami juga tidak menerima seorang juara olimpiade harus jadi pemulung.” Teriak siswa lainnya. Dari ribuan Siswa, terdapat pula beberapa kotak amal bertuliskan, “SPP UNTUK SAGHIRAH” di lain sudut ada juga yang bertuliskan, “SPP UNTUK SANG JUARA”. Dengan raut serius dan berduka, tak sedikit dari peserta demo berurai air mata. Bahkan guru yang mengetahui perihal tersebut merasa haru dan bangga dengan kebersamaan dan kesetia kawanan yang mereka miliki. Sedang di sana, di sekolah Alam, Ira sibuk dengan dulangan mutiara. Dan, Ibu Aisyah dari Sekolah Swasta yang sempat Ira kunjungi menceritakan hal serupa kepada seluruh guru dan kepala sekolah. Dan, kepala sekolah tersebut menyarankan agar Ira resmi pindah sekolah dengan biaya seratus persen di tanggung olehnya.
Setelah demo berlansung, Rahmat, Andi dan Erni ke rumah Ira. Namun sayang, mereka tak dapat menemui Ira, ia sudah berangkat ke ‘sekolah’ nya. Sebentar mereka di rumah Ira, selanjutnya mereka bertiga menuju TPA, sedangkan hasil sumbangan semua diberikan kepada ibunya Ira. “Ira…” Panggil Erni. Saghirah melihat dengan tatapan biasa. Namun setelahnya ia tersentak dan kaget. Bagaimana tidak, Erni datang dengan siswa pilihan yang merupakan siswa paling disegani di sekolahnya, Rahmat dan Andi. Kemudian Ira mendekat dengan pakaian kumalnya. Rahmat tak kuasa melihat sahabat terbaiknya itu bergumul dengan sampah. Tak hanya berkaca-kaca, air matanya tumpah. Namun tetap ia paksakan untuk tersenyum menyambut senyumnya Ira.
“Dari mana kalian tahu Ira disini?” tanya Ira bahagia, ia merasa begitu diperhatikan oleh teman-temannya.
“Dari kemarin-kemarin kita sudah melihat kamu disini, kok” Sahut Erni belagak. Ira hanya tersenyum melihat temannya yang selalu membuatnya bisa tertawa.
Kemudian Ira di ajak pulang.
“Ga bisa sekarang. Ira harus beresin itu dulu semuanya, habis tu baru bisa pulang. Mau tunggu?”
“Ah, ga mau nunggu. Mau bantu aja, boleh?” tanya Erni.
“Eee… Ga usah, tar seragamnya kotor lagi.”
“Ayooo… Siapa juga yang takut kotor. Hemmm..” Erni dengan nada centilnya.
“Kangen tau ditinggalin lama banget.” Seloroh Erni sambil jalan menuju tumpukan sampah daur ulang hasil jerihnya Ira pagi ini. Rahmat dan Andi mengikuti di belakang.
“Ira juga kangen ma kalian semua.” Ucap Saghirah dengan mata berkaca. Kemudian, sambil membersihkan sampah-sampah tersebut, Ira diminta untuk menceritakan seluruh kejadian yang menimpanya.
“Jadi, hampir seluruh profit dari hasil Olimpiade itu di sita kepala sekolah?”
“Iya, tapi, ya… Lupakan lah.” Ucap Saghirah ikhlas.
“Ga.. Ga.. Ga.. Ga boleh gitu. Itu udah korupsi plus menipu namanya. Benar-benar bangsat dia. Kurang ajar.” Rahmat geram.
Andi menunggu kata-kata inspiratif yang biasanya muncul kala geram menerpa Rahmat.
“Gua laporin ke KPK tau rasa dia.”
“Aha, tepat. Kita ga usah repot-repot. KPK jawabannya.” jawab Andi menemukan ide.
“Udahlah, jangan. Kasian dia.” timpal Ira kemudian.
“Yah, gimana nanti aja.” Jawab Rahmat.
Kemudian dengan semangat Andi dan Rahmat membantu mengangkat ‘mutiara’ milik Ira menuju tempat ia menukar menjadi Rupiah. Sedang Ira mengganti seragamnya kembali. Erni hanya menunggu sambil menghayal akan hal indah besok hari yang akan diterima Ira, sahabatnya. Sambil pulang, seperti biasa, Ira menyempatkan diri untuk beli beras dan obat. Andi dan Rahmat yang sebenarnya sudah membawa kebutuhan-kebutuhan untuk Ira juga hanya diam. Ia tak mau merubah apa yang menjadi kebiasaan yang memang dinikmati Saghirah.
Sampai di rumah, Ira kaget dengan semua ini. Disana baru Erni menceritakan apa yang sudah Andi dan teman-teman Osis perbuat demi dirinya. Ira terisak. Menangis haru. Kemudian ia tersenyum bangga dan memeluk Erni seraya berterima kasih tak terhingga bagi Rahmat, Andi, rekan Osis, dan semua siswa.
“Allah pasti membalas niat baik kalian, Ira belum bisa berbuat lebih untuk kalian.”
“Sudahlah, lupakanlah.” Ucap Andi.
“Terima kasih banyak, Nak. Ibu hanya bisa berdoa, semoga kalian semua diberkahi Allah.”
“Iya, Bu. Terima kasih doanya. Itu sudah lebih dari cukup bagi kami yang memang hanya melakukan kewajiban kami.” Jawab Rahmat yang memang berdiri dekat ranjang ibunya Saghirah. Tak lama kemudian, dari luar terdengar ketukan pintu.
“Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikum salam.” Jawab Ira dan Teman sekolahnya. Ira membuka pintu.
“Ibu Aisyah? Ya Allah. Silahkan masuk, Bu.”
“Iya Saghirah, terima kasih. Tapi ibu ga sendiri. Ibu sama guru-guru lainnya.”
“Hah…?” Ira baru sadar.
“Ya Allah… silahkan masuk bu, pak.” sambung Ira ramah. Lalu sebagian dari guru-guru dari dua sekolah itu masuk untuk menjenguk ibu Saghirah secara bergantian. Rasa bahagia yang dirasakan Ira memuncak. Dan, buliran itu tak pernah luput untuk mengapresiasikan kebahagiaan yang melanda hatinya. Sebelumnya ia tak pernah merasa se berharga hari ini. Walau ketika Ia memenangkan Olimpiade sekalipun.
Sore harinya rumah Ira disesaki oleh teman-teman dari kedua sekolah juga.
“Kami sangat berterima kasih sama Ira, Bu. Karena dia sekolah kita bisa jadi sekolah favorit.” Ucap salah satu teman yang sekelas dengan Saghirah.
“Kami juga berterima kasih kepada Ira. Karena dia, kebusukan yang terpendam dalam diri kepala sekolah kami jadi terbongkar. Semoga ia taubat. Amin.” Ucap guru BP sekolah Saghirah yang diamini Ibu Fitri dan seluruh siswa yang berada dalam kamar itu.
“Nak, kenapa kamu harus menutup ini semua sama ibu?” Pertanyaan polos dan sangat dalam itu keluar dari mulut ibu Fitri yang masih terbaring lesu.
Saghirah tak sanggup menjawab. Air matanya berurai.
“Maafkan Ira, bu. Ira ga tega kalo ibu harus mengetahuinya waktu itu.” Lantas ia memeluk ibunya. Suasana haru menyelimuti ruangan sederhana itu.
“Ibu bangga dengan mu, nak.” Ucap ibu Fitri tulus. Linangan air mata tak sanggup dibendungnya.
“Mulai besok kamu tak perlu lagi ke TPA, nak. Semua biaya hidup kita sudah di tanggung oleh Kepala Sekolah SMA Islam Modern Kota Bekasi selama ibu belum bisa bekerja. Dan biaya sekolah kamu sudah di tanggung guru-guru sekolah kamu. Keluarga Erni juga membiayai seluruh biaya pengobatan ibu.” Lanjut ibunya. Saghirah kaget dan melepaskan pelukannya. Aura bahagia memancar dari wajah lusuh ibu Fitri.
“Ya Allah. Terima kasih atas rahmat-Mu ini.” Ucap Saghirah dengan bersujud syukur. Isaknya terdengar. Sebuah isakan bahagia.
“Terima kasih banyak, Er. Kamu sahabat terbaikku.” Ujar Saghirah sambil mendekati dan memeluknya yang membuat linangan baru di mata Erni.
“Sama-sama Ira. Justru aku lah yang seharusnya bereterima kasih. Karena kamu ayah Erni terinspirasi untuk membuat sekolah gratis untuk semua golongan. Terima kasih banyak.” Seluruh temannya menyaksikan haru dan khidmat.
Hari pertama sekolah kembali.
Ira kaget dengan apa yang Rahmat, Andi dan rekan Osis rencanakan.
“Kita sambuuut… Saghirah…” Ucap Andi yang ditemani Rahmat yang memang telah merencanakan syukuran keberhasilan mereka. Tepukan kebanggaan yang diselimuti bahagia menyeruak menghangatkan suasan pagi itu. Semua siswa bahagia dengan kembalinya sang Juara ke sekolah mereka.
Air mata bahagia masih melekat di kelopak mata Saghirah. “Terima kasih tak terhingga untuk Kak Rahmat, Andy serta staf Osisnya, seluruh jajaran guru yang sangat Ira cintai, Erni dan rekan-rekan. Terima kasih juga yang sebesar-besarnya atas kerja keras teman-teman semua. Ira takkan bisa seperti ini tanpa kalian semua.” Begitulah sekelumit sambutan dari Saghirah yang mendadak menjadi pusat perhatian.
Hari-hari selanjutnya Saghirah dapat kembali sekolah dengan tenangnya. Seminggu kemudian Kepala Sekolah diganti, karena Kepala Sekolah yang lama menjadi tersangka korupsi dana Olimpiade tahun lalu. Dan, namanya juga telah didaftarkan untuk ikut olimpiade tingkat Nasional tahun depan. Luar biasa. “Ira, engkau bidadari kecil yang selalu mengajarkan ibu untuk tegar. Kau telah membuat ikon baru dalam kehidupan ibu dan teman-temanmu. Lihatlah disana, mereka semua mengikuti gaya baikmu. Mereka semua memakai kerudung dan baju yang sopan dan menjadi wanita shalehah yang tegar sepertimu. Nak, ibu bangga denganmu… 
Ikuti link ini jika anda suka : http://nomor1.com/leonmu112  atau  http://goo.gl/v2pnmN